Friday, August 10, 2012

0

Kisah Guru di Pedalaman Malaysia: Gaji Bukan Segalanya

  • Friday, August 10, 2012


  • [imagetag]

    Dengan suara keras, perempuan mungil tersebut mencoba menenangkan siswa di penjuru kelas. Menghadapi 40-an siswa yang terdiri dari kelas 1 hingga kelas 4, dia harus menjaga stamina supaya suaranya tetap ada waktu beranjak siang.

    "Senin sampai Jumat mengajar dari pukul 07.00-12.00. Kalau hari Sabtu dan Minggu dari pukul 07.00 sampai petang bahkan kadang maghrib," kata Nur Eka Febriyanti kepada detikcom, Kamis (9/8/2012).

    Eka dan 100-an guru lainnya sengaja di 'ekspor' dari Indonesia ke pedalaman Sabah, Malaysia untuk mengajar anak-anak TKI. Mereka di kontrak oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) selama 2 tahun untuk mengajar di tengah hutan kelapa sawit.

    "Tidak dipungkiri, gaji menjadi salah satu alasan kami ke sini. Tetapi itu bukan segalanya dan alasan utama karena yang utama adalah tantangan dan pengalaman. Tidak semua guru Indonesia mempunyai tantangan mengajar seperti di sini kan?" ujar alumnus Universitas Negeri Surabaya (Unesa-dulu IKIP) memberikan alasan.

    Gaji yang dimaksud Eka adalah Rp 15 juta perbulan. Tetapi harga tersebut sebanding dengan apa yang harus mereka taklukkan. Mengajar di Sapi 2, Kandaan, Sabah, hidup Eka dan puluhan guru lainnya nyaris terisolasi dari dunia luar.

    "Mengajar satu ruangan 4 kelas, kemampuan anak-anak yang sangat minim, terisolasi dari mana pun, sinyal telepon tidak ada dan sebagainya," ungkap lajang asal Mojokerto ini.

    Diakui Eka, tantangan utama hidup di pedalaman adalah kepenatan. Usai mengajar, dia harus pandai-pandai membunuh waktu. Memasak, berkebun, atau bersosialisasi dengan para pekerja sawit yang semuanya dari Indonesia itu. Menempati kamar sederhana, dia tinggal dengan 3 guru lainnya asal Indonesia.

    "Kalau sudah benar-benar buntu dan penat, jalan satu-satunya pergi ke Bandar," kisah Eka.

    Bandar yang dimaksud adalah sebuah kota kecil yang terdapat pasar swalayan dan pusat keramaian lainnya. Menuju kota tersebut, Eka harus pandai-pandai mengatur waktu sebab bus tidak setiap saat melintas.

    "Dari sini harus nebeng truk pengangkut kelapa sawit ke jalan besar. Dari jalan besar menunggu bus lewat, harus hafal jam-jam bus lewat, kalau tidak akan lama sekali menunggunya," tutur Eka.

    Kisah Eka lebih baik dibanding guru Indonesia yang pertama kali menginjak ke perkebunan kelapa sawit ini pada 2006 silam. Seperti diceritakan Chairul Wajid, saat dia membuka jalan mengajar buat anak-anak TKI ini. Dia memasuki lewat jalur TKI yaitu Nunukan dan dikira sebagai pekerja ilegal. Dia sempat diintrograsi selama 2 jam oleh petugas imigrasi dan di pingpong.

    "Karena kami angkatan pertama, sesampainya di lokasi mengajar, kami harus mengenalkan diri kepada masyarakat. Sempat juga di curigai oleh aparat Malaysia, dikira intel kepolisian Indonesia yang menyusup dan sedang menyelidiki kasus," kisah Wajid yang kini telah kembali ke Indonesia dan bekerja di sektor perbankan di Cilacap, Jawa Tengah ini.


    Sumber

     






    812562


    0 Responses to “ Kisah Guru di Pedalaman Malaysia: Gaji Bukan Segalanya ”